Suatu pagi, mobil putih ber plat AB**** melintas di Kebun Mbodro Pakaryan dengan laju pelan dan menepi. Jendela mobil di buka, dari dalam mobil terdengar suara Mas Sabrang, “hla kae cah gugurgunung gek podho macul, yuh dijagongi sedelok”. Mas Sabrang turun bersama rombongan, ternyata ada Mbah Nun yang turut serta. Jelas kami kaget, gugup, gembira, salah tingkah, dst. Kami tergopoh-gopoh menyambut Beliau beserta rombongan. Salim satu persatu. Bingung menawarkan beberapa pilihan tempat untuk pinarak Beliau. “Wis talah ning kene wae, ngopi asyik ning gubug karo ngobrol ngobrol”.

Teman-teman Mbodro Pakaryan langsung gupuh mempersiapkan kopi. Yang mana kompor, gelas, gula, dan tembakau memang sudah ada di kebun sebagai ubo rampe harian. Sepuluh menit kemudian, kopi segera disajikan. Teman teman lalu duduk melingkar. Menyeruput kopi dan menghisap linthingan, sembari memandangi bentangan lahan. Suasana kian asik dan lebih nyantai. Namun teman teman masih memilih diam sambil mengepulkan asap rokok pelan-pelan. Tepatnya mengusir grogi. Mbah Nun menanyakan kabar, dan menanyakan perkembangan kegiatan berkebun kulawarga gugurgunung. Salah satu dari kami mewakili menjawab, kemudian yang lain sambung menyambung, bercerita, curhat, dan seterusnya mengalir apa adanya. Ringkas cerita, Mbah Nun merespon atas curhatan tersebut, demikian : “Golekono sing jenenge Prayitno”. Tentunya tidak tergesa-gesa kami respon, kami endapkan dulu, dan menyimak lagi wejangan wejangan lainnya. Kopi hampir tandas, kemudian obrolan disudahi. Mbah Nun beserta rombongan berpamitan. Menyisakan semilir yang menyeka peluh pada sekujur paras, yang kemudian ademnya menjalar sekujur tubuh.

 

Nggoleki Prayitno?

Prayitno?

Kami jasadkan informasi tersebut. Yang kami temui ternyata :

  • Pak Min, petani sepuh yang ketangguhan tenaga maculnya kerap bikin kami malu.
  • Pak Muntaha, kelakar di tengah terik bersama kopi dan asap.
  • Pak Darso, Petani setengah baya bertubuh kecil, namun sanggup ngayahi sekian petakan lahan sendirian.
  • Pak Kustam petani senior yang paling pedas kritikannya, lebih pedas dari seluruh varian japlak yang pernah kami tanam.

 

Pencarian berlanjut ke dalam tim Mbodro Pakaryan.

  • Mas Amri yang ternyata Syaiful, pekerja online yang gigih. Serta komendan wirid yang fasih. Maka padanya kami percayakan urusan wirid dan sholawat mengelilingi kebun.
  • Mas Dhika yang Hendrawan, apoteker dan dosen farmasi, yang kerap ngajar online mahasiswanya di tengah kebun.
  • Mas Fidhoh yang Rahmat, juga seorang apoteker muda yang memperpanjang masa jomblonya, yang pagi di klinik kemudian sore di kebun. Spesialis pengobatan tanaman.
  • Mas Nardi yang tidak sekedar SUnardi namun juga Sung dan Sih pada tiap tiap tahapan kegiatan kebun, yang benar benar ketat berbagi waktu dengan urusan kantornya. Yang kesemua itu kemudian teman-teman mengangkatnya sebagai Imam Tani Mbodro Pakaryan.
  • Mas Didit yang Suyadi, engineer muda yang dipercaya sebuah rumah sakit untuk berkontribusi dalam bidang engineering, yang di sela-sela padat kesibukannya masih tetap konsisten tilik kebun.
  • Mas Koko yang Nugroho, mantan kontraktor yang memilih berkarya dibidang kriya, juga pedagang online, serta fotografer, yang paling rajin mencatat dan mendokumentasikan seluruh kegiatan kebun.
  • Pak Tri yang Mulyono, mantan teknisi Telkom, distributor Mini Gold, pedagang pasar yang beberapa waktu lalu mengalami kecelakaan hebat, operasi pada bagian kepala. Harus menempuh recovery selama 6 bulan total istirahat dengan pantauan rutin medis. Namun justru memilih kebun sebagai ruang recoverynya.
  • Mbak Dewi yang ternyata Astuti, satu satunya perempuan yang bergabung dengan tim Mbodro Pakaryan ini. Yang setiap Sabtu dengan rela membuat kudapan khas sawah, yang ketika mau diganti uang bumbu selalu menjawab, “mbok biar saja mas, wong sudah ditalangi Mas Diyan”. Iya, Mas Diyan yang ternyata Dwi, pacarnya Mbak Dewik yang sekarang jadi suaminya. Pemilik sepasang cempe Si Cikal dan Si Bakal yang baru dua minggu di kebun kemudian dicuri orang.
  • Mas Tatag yang ternyata Wiyono, serta Mas Edi, kakak pendahulu rintisan Tani Gugurgunung yang nggetih, tidak sekedar mengestafeti nilai, namun juga masih sempat ngamping-ngampingi.
  • Mas Agus yang Ampuh Wibowo, sesepuh gugurgunung, yang acapkali kebijakannya muncul pada garis nyaris. Mentransformasi potensi karakter brangasan adik-adiknya menjadi sesuatu yang konstruktif. Mengedepankan diplomasi sosial dan laku spiritual mulai dari diplomasi pada manusia-manusia yang nikus, sampai diplomasi pada tikus beneran.
  • Serta Kasno yang thok, atau hanya Kasno, yang pagi berkebun dan malam berdagang kulineran.

 

Tak jua ketemu dengan Prayitno. Pencarian kami naikkan grade-nya. Prayitno coba kita maknawikan, sebagai “Waspada”. Waspada terhadap cuaca, yang menghasilkan sumur untuk persediaan musim kemarau, dan sistem drainase untuk mengantisipasi musim penghujan. Waspada terhadap hama, yang menghasilkan formulasi formulasi ramuan organic. Serta waspada terhadap masyarakat sekitar, yang menghasilkan diplomasi sosial dan laku spiritual. Dan ternyata yang terpenting adalah waspada pada diri sendiri seperti rasa malas, takut mencoba,  kecewa, frustasi, putus asa, yang oleh Prayitno mampu ditransformasikan menjadi asa atau harapan. Atau sebaliknya berupa rasa percaya diri berlebihan, sombong, nggampangke, meremehkan perkara, yang oleh Prayitno ditransformasikan menjadi hati-hati. Prayitno atau Waspada ternyata sesuatu yang harus kita temukan dalam diri sebagai konstanta atau koefisien terhadap variabel-variabel yang ada dalam diri kita untuk menghasilkan keseimbangan, akurasi, efektifitas, serta kemungkinan kemungkinan lain yang lebih konstruktif.

 

Alhasil, tanaman selanjutnya berupa semangka dan melon mampu kita kawal mulai dari pembibitan sampai pada panen, serta memasarkan hasil panen. Memang masih banyak evaluasi, namun pencapaian ini, setidaknya kabar bertemunya kami dengan Prayitno, ingin segera kami kabarkan pada Mbah Nun, sembari menghaturkan bebungah berupa buah Semangka dan Melon. Dan pada pertemuan yang menggembirakan tersebut, Mbah Nun menyampaikan wejangan,

 “Urip kui witwitan miturut Allah. Yo uripe sopo wae kui witwitan. Oyote lan sekabehane kudu jejodoan karo lemah. Godhonge murih nganti iso nggayuh langit. Uwohe Suwargo”.

 

Alhamdulillahirobbil ‘alamiin

 

Oh iya, tentang Mbah Nun, Mas Sabrang, beserta rombongan yang mampir ke Kebun Mbodro Pakaryan pada alinea awal tulisan ini, adalah fenomena mimpi yang dialami Mas Koko Nugroho. Ini menarik untuk  ditulis sebagai dokumentasi kecil, yang semoga masih terkait dengan semesta Kebon (165), yang Mbah Nun sendiri menyampaikan sudah lama ingin mendokumentasikan fenomena-fenomena serupa.

 

 

_______________________

Janma Mitra gugurgunung
Kasno

Posted in Liqo'u.